Selasa, 03 April 2012

John Locke


BAB I
PENDAHULUAN
John Locke merupakan salah satu dari begitu banyak tokoh yang sudah memberikan pemikirannya tentang perkembangan pendidikan di dunia, ia memiliki latar belakang yang berbeda dalam pendidikan dan perkembangan individunya.
Pandangan pendidikan John Locke yang terkenal adalah konsep TABULA RASA atau lembaran kosong, yaitu dimana dianggap bahwa otak adalah sebuah penerima pasif yang memperoleh pengetahuan dari pengalaman dan menyerapnya melalui panca indera berbagai gagasan sederhana dan kemudian digabungkan atau dihubungkan untuk membentuk suatu pemikiran yang berkaitan.
Penerapan tabula rasa oleh John Locke ditunjukkan dalam pandangannya mengenai pembedaan yang jelas antara pendidikan dan perolehan (melalui penggabungan) informasi verbal yang semata-mata hanya untuk diingat dan diulangi. Ia menekankan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mengembangkan kekuatan badan dan pikiran individu agar ia sukses dalam hidupnya.












BAB II
PEMBAHASAN
A.    Riwayat Hidup
Sarjana Inggris ini dilahirkan pada tahun 1632, dibesarkan oleh ayah yang seorang pengacara yang bekerja sebagai juru tulis hakim di Somersetshire dan menjadi kapten angkatan bersenjata di Long Parliament selama pemerintahan Raja Charles I. Pada  Tahun 1646, John Locke berusia 14 tahun dia diterima di Westminster School, dimana selama 6 tahun ia mencurahkan perhatiannnya pada pelajaran bahasa latin dan Yunani, disamping pelajaran-pelajaran lainnya yang diberikan disekolah-sekolah menengah. Kemudian pada tahun 1952 Ia belajar kedokteran di Universitas Oxford, disamping itu ia mempelajari ilmu alam dan filsafat. Ia mendapatkan gelar sarjana mudanya pada tahun 1656 dan sarjana penuh pada tahun 1658. Sebagai dokter ia menjadi dokter pribadi Lord Shaftesbury dan menjadi pengasuh anaknya yang sakit-sakitan. Bersama dengan Shaftesbury ia mengadakan beberapa kali perjalanan ke luar Inggris. Karena persengketan politik ia mengikuti Shaftesbury mengungsi ke Negeri Belanda. Akhirnya dalam situasi kemenangan politik ia kembali ke Inggris bersama dengan Raja Willem III. Padanya diserahi jabatan tinggi, tetapi karena buruknya kesehatannya ia akhirnya mengundurkan diri dan meninggalkan London. Ia hidup dalam suatu pesanggrahan, yang dipinjamkan dari seorang teman. Ia berdiam disitu sampai meninggal pada tahun 1704.[1]

B.     Dalam Bidang Pendidikan
Pandangannya tentang pendidikan ia letakkan dalam bukunya pada tahun 1693 yang berjudul “Some thoughts concerning education of children” (beberapa pemikiran tentang pendidikan kanak-kanak). Pangkal pemikirannya adalah penerapan falsafahnya terhadap anak. Pada waktu lahir anak manusia adalah kosong seperti kertas putih yang belum tertulisi, pengisiannya bergantung pada pengalamannya. Ini adalah aliran empirisme dalam pendidikan, disebut pula aliran tabula rasa.
Jenis pendidikannya: pendidikan harmonis antara jasmani dan rohani. Ini ternyata dari kalimat permulaan dalam bukunya berupa ucapan men sana in corpora sano (pada akal yang sehat terdapat jiwa yang kuat).
Pendidikan jasmani. Ia mementingkan kesehatan jasmani karena telah merasakan akibat yang tidak baik berhubung dengan kesehatan badan pribadinya yang buruk, itu karena jabatannya sebagai dokter. Untuk penjagaan kesehatan wajib ada pendidikan jasmani teratur dan keras, ada cara hidup baik untuk menguatkan badan dengan berbagai pantangan.
Pendidikan rohani. Dalam pendidikan rohani ia mengutamakan manusia berkepribadian, berwatak berdasarkan pikirnya. Ini sesuai dengan anggapannya, bahwa pikir berada di atas segalanya dan merupakan hakim tertinggi baginya (rasionalisme). Pendirian ini menentang pendidikan pada zaman itu, pada waktu itu pendidikan mengutamakan manusia yang pandai mengabdi dengan perbuatan semu untuk menyenangkan atasan dan orang lain.
Motif perbuatan manusia berwatak adalah harga diri, dengan nama baiknya. Norma kesusilaan tidak boleh ditanamkan berdasarkan agama, melainkan berdasarkan pemikiran (rasio). Berpegangan pada pemikiran sehat orang memperoleh watak dan keberanian yang baik, watak dihargai lebih tinggi dari pada pengetahuan. Pendidikan formil lebih diutamakan daripada pendidikan materiil, karena pendidikan dalam keluarga oleh orang tua dan pengasuh dirumah lebih diutamakan daripada pendidikan di sekolah. Begitulah ciri pendidikan menurut John Locke adalah serba individual.
Ketertiban di sekolah. Ia tidak menyetujui ketertiban keras berdasarkan paksaan, yang menimbulkan perbuatan semu, melainkan ketertiban yang lebih lunak, yaitu ketertiban batin berdasarkan daya tangkap anak akan kegunaannya. Hukuman badan dan hadiah tidak disetujuinya.[2]
1.      Tujuan Pendidikan
Dalam pandangannya tentang filsafat ilmu pengetahuan, Locke mengemukakan tentang beberapa tujuan dari pendidikan, yakni pertama, pendidikan bertujuan untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran setiap manusia (bangsa). Oleh sebab itu, sebagai bagian akhir dari pendidikan, pengetahuan hendaknya membantu menusia untuk memperoleh kebenaran, keutamaan dan kebijaksanaan hidup. Kedua, pendidikan juga bertujuan untuk mencapai kecerdasan setiap individu dalam menguasai ilmu pengetahuan sesuai dengan tingkatannya. Dalam konteks itu, Locke melihat pengetahuan sebagai usaha untuk memberantas kebodohan dalam hidup masyarakat. Setiap manusia diarahkan pada usaha untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada dalam dirinya. Ketiga, pendidikan juga menyediakan karakter dasar dari kebutuhan manusia untuk menjadi pribadi yang dewasa dan bertanggung jawab. Dalam arti ini, pengetahuan dilihat oleh John Locke sebagai sarana untuk membentuk manusia menjadi pribadi yang bermoral. Seluruh tingkah laku diarahkan pada usaha untuk membentuk pribadi manusia yang baik, sesuai dengan karakter dasar sendiri sejak diciptakan. Keempat, pendidikan menjadi sarana dan usaha untuk memelihara dan membaharui sistem pemerintahan yang ada.
2.      Kompetensi Guru
Menurut Locke, yang penting bagi seorang guru adalah melatih pikiran siswa untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Guru tidak boleh membuat penyiksaan fisik yang sewenang-wenang terhadap siswa, sebab dengan demikian hanya akan menghilangkan kebebasan dalam pelaksanaan pendidikan.
Dengan demikian seorang guru harus berperan sebagai mediator atau fasilitator yang membantu proses belajar seorang siswa. Oleh kerena itu, seorang guru memiliki tiga tugas utama, yaitu:
a)      Guru menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa menyusun rancangan belajar. Seorang guru memungkinkan siswanya untuk menjalankan proses belajar atau membentuk pengertiannya sendiri. Yang perlu diperhatikan di sini adalah guru menyediakan pengalaman belajar bagi siswa itu sendiri. Mengajar dalam bentuk ceramah bukanlah menjadi tugas utama seorang guru.
b)      Guru memberikan kegiatan-kegiatan yang membangkitkan rasa ingin tahu siswa dan membantu siswa untuk mengekspresikan gagasan-gagasannya atau mengkomunikasikan ide ilmiah mereka. Dengan kata lain, guru memberi semangat kepada siswa untuk berpikir, mencari pengalaman baru. Bahkan guru perlu memberikan pengalaman konflik. Pengalaman konflik yang dimaksudkan yakni pemaparan mengenai sebuah kasus atau persoalan yang perlu dipecahkan sendiri oleh siswa tersebut.
c)      Guru memonitor atau mengevaluasi apakah proses berpikir siswa dan cara mengekspresikan pikiran berhasil atau tidak. Guru mempertanyakan apakah pengetahuan siswa cukup untuk memecahkan persoalan-persoalan yang akan dihadapi.
3.      Metode Pembelajaran
Pada dasarnya Locke menolak metode pengajaran yang biasa disertai dengan hukuman. Baginya, tata krama dipelajari melalui teladan dan bahasa dipelajari melalui kecakapan. Dengan demikian metode yang ditawarkan Locke adalah pelajaran melalui praktek. Metode harus membawa para murid kepada praktek aktivitas-aktivitas kesopanan yang ideal sampai mereka menjadi terbiasa. Anak-anak pertama-tama belajar melalui aktivitas-aktivitas yang dilakukan, baru kemudian tiba pada pengertian atau pengetahuan atas apa yang ia lakukan.
Menurutnya pengajaran di sekolah wajib berdasarkan pengalaman dengan cara induktif melalui indera, sambil bermain-main. Dengan permainan anak tetap memiliki sifat gembiranya dan juga anak memperoleh berbagai pengalaman.
           Perlu diketahui bahwa John Locke menginginkan agar mata pengajaran diajarkan berturutan,       tidak bersamaan. Misalnya: membaca dulu hingga bisa, kemudian menulis dulu sampai bisa, lalu hitung dan seterusnya.
4.      Kurikulum
John Locke menegaskan kurikulum harus diarahkan demi kecerdasan individual, kemampuan dan keistimewaan anak-anak dalam menguasai pengetahuan dan bukan pada pengetahuan yang biasa diajarkan dengan hukuman yang sewenang-wenang. Kurikulum bagi siswa hendaknya difokuskan pada ibadah yang teratur demi memperbaiki kehidupan religius dan moral, pada kerajinan tangan dan pada pendidikan kesenian, dengan suatu maksud bahwa para murid harus belajar membaca, menulis dan mengerjakan ilmu pasti.[3]

5          5.   Evaluasi Proses Belajar
Dalam mengevaluasi cara belajar siswa, seorang guru tidak dapat mengevalusi apa yang sedang dibuat siswa atau apa yang mereka katakan. Yang harus dibuat guru adalah menunjukkan kepada siswa apa yang mereka pikirkan itu tidak cocok atau tidak sesuai untuk persoalan yang dihadapi. Guru tidak menekankan kebenaran tetapi kebehasilan suatu usaha. Tidak ada gunanya mengatakan siswa itu salah karena hanya merendahkan motivasi belajar.
Kepada siswa diberikan suatu persoalan yang belum pernah ditemui sebelumnya, amati bagaimana mereka menyelesaikan persoalan itu. Pendekatan siswa terhadap persoalan itu lebih penting dari pada jawaban akhir yang diberikannya. Dengan mengamati cara konseptual yang dipakai siswa, guru dapat menangkap bagaimana jalannya konsep mereka.




BAB III
KESIMPULAN
John Locke lahir pada tahun 1632 di Wrington Inggris, dibesarkan oleh ayah yang seorang pengacara yang bekerja sebagai juru tulis hakim di Somersetshire dan menjadi kapten angkatan angkatan bersenjata di Long Parliament selama pemerintahan Raja Charles I.
Pandangannya tentang pendidikan ia letakkan dalam bukunya pada tahun 1693 yang berjudul “Some thoughts concerning education of children” (beberapa pemikiran tentang pendidikan kanak-kanak). Pangkal pemikirannya adalah penerapan falsafahnya terhadap anak. Pada waktu lahir anak manusia adalah kosong seperti kertas putih yang belum tertulisi, pengisiannya bergantung pada pengalamannya. Ini adalah aliran empirisme dalam pendidikan, disebut pula aliran tabula rasa.
Jenis pendidikannya: pendidikan harmonis antara jasmani dan rohani. Ini ternyata dari kalimat permulaan dalam bukunya berupa ucapan men sana in corpora sano (pada akal yang sehat terdapat jiwa yang kuat).










DAFTAR PUSTAKA
Ag.Soejono, Aliran Baru dalam Pendidikan, (Bandung: C.V.ILMU, 1978)
Leonardo, “Filsafat Pendidikan Menurut John Locke dan John Dewey”, dari www.wordpress.com, 5 Mei 2011.


[1] Ag.Soejono, Aliran Baru dalam Pendidikan, (Bandung: C.V.ILMU, 1978), hlm. 18
[2] Ag.Soejono, Aliran Baru dalam Pendidikan, (Bandung: C.V.ILMU, 1978), hlm. 20-21
[3] Leonardoansis, “Filsafat Pendidikan Menurut John Locke dan John Dewey”, dari www.wordpress.com, 5 Mei 2011.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar